Duka Ibunda Raisa dan Pentingnya Skrining Dini Kanker Paru
TrenHarapan – Kabar meninggalnya ibunda penyanyi Raisa Andriana, Ria Mariaty, pada Sabtu pagi (29/11/2025), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan publik yang mengikuti perjalanan kesehatan beliau. Raisa menyampaikan berita tersebut dengan hati berat melalui Instagram Story, mengabarkan bahwa sang ibunda telah berpulang setelah berjuang melawan Kanker Paru. Kepergian Ria Mariaty tak hanya menjadi luka bagi keluarga, tetapi juga mengingatkan banyak orang akan bahaya kanker paru yang sering datang tanpa gejala khas. Dalam suasana duka ini, percakapan mengenai deteksi dini kembali menguat, memicu kesadaran bahwa penyakit mematikan ini sering terlambat terdeteksi hingga berada di tahap yang sulit ditangani.
Ancaman Kanker Paru dan Minimnya Kesadaran
Kanker paru menjadi salah satu kanker paling mematikan di dunia, dengan ACS mencatat bahwa penyakit ini menyumbang satu dari empat kematian akibat kanker. Meski mematikan, peluang kesembuhan sebenarnya dapat meningkat tajam bila penyakit ditemukan sejak stadium awal. Sayangnya, skrining kanker paru masih jarang dilakukan. Pada 2022, hanya 16 persen dari orang-orang yang memenuhi syarat yang menjalani skrining CT scan dosis rendah. Di tengah risiko yang tinggi, pakar kanker seperti Daniel J. Boffa menekankan bahwa skrining merupakan alat paling kuat untuk menurunkan angka kematian. Namun minimnya kesadaran dan akses masih menjadi penghalang utama yang membuat banyak kasus baru ditemukan terlambat.
“Baca Juga : Hipertensi Paru: Penyakit Mematikan yang Sering Tak Disadari”
Kemajuan Teknologi Skrining yang Membawa Harapan
Perkembangan teknologi medis memberi harapan baru dalam upaya menurunkan angka kematian akibat kanker paru. Penggunaan CT scan dosis rendah menjadi terobosan penting karena mampu mendeteksi kanker lebih cepat, bahkan sebelum gejala muncul. Proses skrining hanya memakan waktu beberapa menit, tetapi dampaknya sangat besar bagi keberhasilan pengobatan jangka panjang. NCI melaporkan bahwa skrining dapat menurunkan risiko kematian hingga 20 persen. Inilah alasan para ahli terus mendorong masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan, terutama individu dengan faktor risiko tinggi. Semakin cepat tumor teridentifikasi, semakin besar peluang pasien menjalani terapi personalisasi dengan hasil yang lebih efektif.
Siapa yang Disarankan untuk Skrining?
Pedoman internasional menyarankan skrining tahunan bagi orang berusia 50 tahun ke atas dengan riwayat merokok signifikan. Tetapi Dr. Boffa menegaskan bahwa kanker paru juga menyerang orang yang tidak pernah merokok. Sekitar 20 persen kasus justru terjadi pada kelompok non-perokok. Paparan radon, asbestos, asap masakan, polusi udara, serta riwayat keluarga menjadi faktor risiko lain yang sering terabaikan. Gejala seperti batuk kronis, nyeri dada, suara serak, atau penurunan berat badan tanpa sebab patut dicurigai. Edukasi publik tentang gejala awal menjadi kunci pencegahan agar masyarakat tidak menganggap remeh tanda-tanda yang muncul.
Mengapa Seseorang Bisa Terkena Kanker Paru?
Menurut Dr. Amy Cummings dari UCLA Health, kanker paru biasanya muncul akibat ketidakstabilan genom kondisi ketika sel mengalami kesalahan saat membelah dan berkembang menjadi kanker. Walau merokok menjadi penyebab utama, paparan bahan berbahaya seperti asap diesel, debu silika, hingga logam berat dapat memicu kerusakan serupa. Bahkan, para ahli menemukan bahwa faktor biologis tertentu berperan dalam meningkatnya kasus kanker paru pada non-perokok. Hal ini menjelaskan mengapa tidak semua perokok mengidap kanker paru dan mengapa beberapa orang yang tidak merokok justru terdiagnosis. Kompleksitas ini membuat pentingnya skrining dan deteksi dini semakin tak terbantahkan.
“Simak Juga : Risiko Kehamilan Usia Dini yang Sering Diabaikan”
Tantangan Pemerataan Akses Skrining di Indonesia
Meskipun teknologi skrining sudah tersedia, tidak semua lapisan masyarakat memiliki akses yang sama. Dr. Sha’Shonda Revels dari UCLA menyoroti bahwa kelompok rentan sering kali memiliki kesadaran dan akses lebih rendah, padahal risiko mereka sama besar. Di Indonesia, tantangan terbesar meliputi keterbatasan fasilitas kesehatan, biaya pemeriksaan, serta kurangnya edukasi mengenai pentingnya skrining. Banyak orang datang ke rumah sakit ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi ini memperumit pengobatan dan mengurangi peluang kesembuhan. Meningkatkan akses, pemerataan informasi, serta program skrining bersubsidi menjadi langkah krusial yang perlu diprioritaskan.
Kehilangan yang Menjadi Pengingat untuk Kita Semua
Kisah duka yang dialami Raisa dan keluarganya menjadi pengingat bahwa kanker paru adalah penyakit yang bisa menimpa siapa saja. Deteksi dini bukan sekadar anjuran, tetapi kebutuhan penting untuk menyelamatkan nyawa. Dengan teknologi yang semakin canggih dan pengetahuan medis yang terus berkembang, masyarakat diharapkan lebih sigap mengenali gejala awal dan melakukan pemeriksaan berkala. Di balik kehilangan ini, ada pelajaran besar tentang pentingnya menjaga kesehatan dan tidak menunda langkah pencegahan. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk sembuh dan skrining dini adalah langkah pertama menuju harapan itu.


