Apa Bedanya Beras Fortifikasi dan Beras Biasa? Kenali Kandungan Gizinya

Apa Bedanya Beras Fortifikasi dan Beras Biasa? Kenali Kandungan Gizinya

Tren Harapan – Sekilas, beras fortifikasi dapat terlihat hampir sama dengan beras yang biasa ditemukan di dapur. Namun, keduanya memiliki perbedaan penting. Perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa terutama terdapat pada kandungan mikronutrien dan proses pembuatannya. Beras biasa memiliki zat gizi yang secara alami terdapat pada beras. Sementara itu, beras fortifikasi mendapatkan tambahan vitamin atau mineral melalui proses tertentu. Tujuannya adalah meningkatkan asupan zat gizi mikro pada masyarakat. Meski demikian, fortifikasi tidak membuat beras menjadi makanan dengan gizi lengkap. Nasi tetap perlu dikonsumsi bersama sumber protein, sayuran, buah, dan kelompok pangan lainnya agar kebutuhan nutrisi lebih beragam.

Beras Biasa Tetap Menjadi Sumber Energi

Beras merupakan sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan berbagai negara Asia. Setelah dimasak menjadi nasi, makanan ini menyediakan energi yang digunakan tubuh untuk beraktivitas. Beras juga mengandung sejumlah protein serta vitamin dan mineral dalam jumlah yang berbeda. Kandungan tersebut dipengaruhi varietas dan tingkat pengolahan. Proses penggilingan dan pemolesan, misalnya, dapat menghilangkan sebagian lapisan luar butir beras. Akibatnya, sebagian vitamin dan mineral yang awalnya berada pada lapisan tersebut dapat ikut berkurang. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa fortifikasi pangan dikembangkan untuk komoditas yang dikonsumsi luas.

Beras Fortifikasi Mendapat Tambahan Mikronutrien

Beras fortifikasi dibuat dengan meningkatkan kandungan mikronutrien tertentu. Zat besi, asam folat, zinc, vitamin A, serta sejumlah vitamin B merupakan contoh nutrisi yang dapat digunakan. Namun, komposisinya tidak selalu sama pada setiap produk. Formula dapat ditentukan berdasarkan kebutuhan masyarakat, regulasi, program pemerintah, dan proses produksi. Karena itu, konsumen sebaiknya membaca informasi nilai gizi pada kemasan untuk mengetahui zat yang benar-benar ditambahkan. Prinsip ini penting karena istilah “fortifikasi” tidak otomatis berarti sebuah produk mengandung semua vitamin dan mineral. Fortifikasi merupakan proses penambahan satu atau beberapa zat gizi dengan tujuan tertentu.

Fortifikasi Tidak Sama dengan Nutrisi Alami Beras

Sumber mikronutrien menjadi salah satu pembeda keduanya. Pada beras biasa, nutrisi berasal dari bahan pangan itu sendiri. Sementara itu, pada beras fortifikasi terdapat vitamin atau mineral yang sengaja ditambahkan selama proses produksi. Salah satu teknik yang banyak digunakan adalah membuat fortified rice kernels atau butiran beras yang telah diperkaya. Butiran tersebut kemudian dapat dicampurkan dengan beras biasa dalam proporsi yang sudah ditentukan. Hasil akhirnya dirancang agar dapat dimasak dan dikonsumsi seperti nasi pada umumnya. Dengan pendekatan ini, makanan pokok yang sudah biasa dikonsumsi masyarakat dapat menjadi kendaraan untuk meningkatkan asupan mikronutrien tertentu.

Proses Produksinya Memiliki Tahap Tambahan

Beras biasa umumnya melalui penggilingan untuk memisahkan sekam dan menghasilkan beras yang siap diolah. Tingkat pemolesan kemudian dapat berbeda sesuai jenis produk. Sebaliknya, beras fortifikasi membutuhkan tahapan tambahan. WFP menjelaskan beberapa teknologi fortifikasi beras, termasuk ekstrusi, coating, dan dusting. Pada ekstrusi, tepung beras dicampurkan dengan premiks vitamin dan mineral. Campuran tersebut kemudian dibentuk kembali menjadi butiran yang menyerupai beras. Metode coating menggunakan lapisan yang mengandung mikronutrien pada permukaan butir. Sementara itu, dusting menggunakan campuran mikronutrien berbentuk bubuk. Perbedaan metode ini dapat memengaruhi ketahanan nutrisi selama penanganan dan pencucian.

Bentuknya Bisa Sulit Dibedakan Secara Kasat Mata

Jangan berharap beras fortifikasi selalu memiliki warna atau bentuk yang sangat berbeda. Fortified rice kernels hasil ekstrusi dapat dibuat menyerupai butiran beras biasa. Setelah dicampurkan, sebagian konsumen mungkin sulit mengenalinya hanya dengan melihat. Rasa dan teksturnya juga dirancang agar tetap dapat diterima masyarakat. Hal ini sebenarnya penting dalam program fortifikasi. Perubahan rasa yang terlalu besar dapat membuat masyarakat enggan mengonsumsinya. Namun, karakteristik produk tetap dapat berbeda tergantung teknologi, formula, kualitas bahan, dan proses produksi. Karena itu, label pada kemasan menjadi sumber informasi yang lebih dapat diandalkan dibandingkan menilai fortifikasi hanya dari bentuk butiran.

Cara Mencuci Bergantung pada Teknologi Fortifikasi

Cara menangani beras fortifikasi juga perlu diperhatikan. Tidak semua metode fortifikasi memiliki ketahanan yang sama terhadap pencucian. Pada metode tertentu, mikronutrien berada lebih dekat dengan permukaan butir sehingga dapat lebih mudah berkurang ketika terkena air. Sebaliknya, teknologi ekstrusi menempatkan nutrisi di dalam butiran yang dibentuk kembali sehingga lebih tahan terhadap pencucian. Karena terdapat perbedaan teknologi, tidak tepat memberikan satu aturan mencuci untuk seluruh beras fortifikasi. Pilihan paling aman adalah mengikuti petunjuk pengolahan yang diberikan produsen atau program pangan terkait. Kebiasaan mencuci beras secara berlebihan juga tidak selalu diperlukan jika produk sudah bersih dan petunjuk kemasan menyarankan perlakuan berbeda.

Fortifikasi Dirancang untuk Membantu Asupan Mikronutrien

Tujuan fortifikasi bukan mengubah nasi menjadi makanan super. Strategi ini digunakan untuk membantu meningkatkan asupan mikronutrien melalui makanan yang sudah dikonsumsi secara rutin. Beras menjadi kandidat yang menarik karena merupakan makanan pokok bagi populasi besar. WHO menyebut fortifikasi beras dengan vitamin dan mineral sebagai strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan status mikronutrien pada populasi tertentu. Pendekatan ini memiliki keuntungan praktis. Masyarakat tidak perlu mengubah pola konsumsi makanan pokok secara drastis. Namun, keberhasilan program tetap bergantung pada kualitas fortifikasi, pola konsumsi, cakupan program, dan kebutuhan nutrisi kelompok sasaran.

Baca Juga: Influenza A Mengintai, Dosen Unair Beri Tips Cegah Penularan pada Anak

Beras Fortifikasi Bukan Pengganti Pola Makan Beragam

Tambahan vitamin dan mineral dapat meningkatkan kandungan nutrisi tertentu, tetapi tidak membuat satu jenis makanan memenuhi seluruh kebutuhan tubuh. Tubuh tetap membutuhkan protein, lemak sehat, serat, serta berbagai vitamin dan mineral dari beragam sumber. Oleh sebab itu, beras fortifikasi lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan, bukan penggantinya. Nasi dapat dipadukan dengan ikan, telur, daging, tahu, tempe, sayuran, buah, dan makanan lain sesuai kebutuhan. Dari sudut pandang gizi, keberagaman pangan tetap penting karena masing-masing bahan memberikan kombinasi nutrisi yang berbeda. Fortifikasi berfungsi melengkapi strategi pemenuhan zat gizi, bukan menghapus kebutuhan terhadap makanan bergizi lainnya.

Kandungan Fortifikasi Perlu Dilihat dari Label Produk

Ketika membeli beras fortifikasi dalam kemasan, informasi pada label menjadi hal penting untuk diperiksa. Konsumen dapat melihat daftar bahan dan tabel informasi nilai gizi untuk mengetahui kandungan produk. Jangan menganggap semua beras berlabel fortifikasi memiliki formula identik. Satu produk mungkin menambahkan zat besi dan zinc, sedangkan produk lain dapat menggunakan kombinasi mikronutrien yang berbeda. Kadar yang diberikan juga dapat berbeda. Karena itu, label lebih informatif dibandingkan hanya mengandalkan istilah pemasaran pada bagian depan kemasan. Jika beras berasal dari program bantuan atau intervensi gizi, informasi dari lembaga penyelenggara dapat membantu menjelaskan komposisi serta cara pengolahannya.

Harga Tidak Selalu Bisa Dijadikan Pembeda

Proses fortifikasi memang membutuhkan bahan dan teknologi tambahan. Namun, hal tersebut tidak berarti beras fortifikasi selalu memiliki harga eceran lebih mahal daripada semua beras biasa. Harga beras dipengaruhi banyak faktor. Varietas, kualitas, merek, kemasan, distribusi, subsidi, serta program pemerintah dapat memengaruhinya. Beras premium biasa bahkan dapat memiliki harga lebih tinggi daripada produk fortifikasi tertentu. Oleh sebab itu, harga bukan indikator yang dapat digunakan untuk memastikan sebuah beras telah difortifikasi. Informasi produk, komposisi, dan label tetap menjadi acuan yang lebih tepat. Dalam program pangan pemerintah, struktur biaya juga dapat berbeda dari produk yang dijual secara komersial.

Pilihan Beras Sebaiknya Disesuaikan dengan Kebutuhan

Pada akhirnya, perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa bukan tentang menentukan mana yang mutlak lebih baik. Beras biasa tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Sementara itu, beras fortifikasi menawarkan tambahan mikronutrien dan dapat memiliki fungsi penting dalam strategi mengatasi kekurangan zat gizi tertentu. Pilihan konsumen dapat mempertimbangkan kebutuhan nutrisi, ketersediaan produk, label gizi, serta pola makan secara keseluruhan. Hal yang tidak kalah penting adalah lauk dan makanan pendamping nasi. Sebab, kualitas pola makan ditentukan oleh keseluruhan makanan yang dikonsumsi, bukan hanya satu jenis beras yang berada di dalam piring.