Daftar Penyakit yang Banyak Dilaporkan Usai Gempa NTT, ISPA Tertinggi
TrenHarapan – Penyakit usai gempa NTT menjadi perhatian setelah ribuan keluhan kesehatan dilaporkan dari wilayah terdampak di Kepulauan Flores. Berdasarkan pemaparan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Agus Jamaludin, infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA menjadi masalah yang paling banyak dilaporkan. Dalam periode 15–25 Agustus 2026, tercatat 9.668 kasus ISPA atau batuk di tujuh kabupaten terdampak. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa masalah kesehatan lain yang tercatat pada periode yang sama. Selain ISPA, laporan juga mencakup hipertensi, nyeri otot, trauma, diare, hingga penyakit kulit. Data ini memperlihatkan bahwa dampak gempa tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kebutuhan tempat tinggal. Setelah fase darurat berlangsung, kesehatan masyarakat juga membutuhkan perhatian serius. Terlebih lagi, kondisi setelah bencana dapat membuat kebutuhan pelayanan kesehatan meningkat dalam waktu bersamaan.
ISPA Menjadi Keluhan dengan Laporan Tertinggi
ISPA menempati posisi teratas dengan 9.668 kasus. Laporan tersebut berasal dari Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Ende, Ngada, dan Manggarai Timur. Besarnya jumlah laporan membuat gangguan pernapasan menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang perlu diperhatikan setelah gempa. Dalam kondisi pascabencana, masyarakat dapat menghadapi perubahan lingkungan dan rutinitas sehari-hari. Sebagian warga juga mungkin harus tinggal sementara di lokasi yang berbeda dari rumah mereka. Namun, data yang disampaikan tidak menjelaskan secara khusus penyebab setiap kasus ISPA tersebut. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai laporan masalah kesehatan selama periode pemantauan, bukan bukti bahwa seluruh kasus disebabkan langsung oleh gempa. Meski demikian, jumlahnya menunjukkan kebutuhan pelayanan kesehatan yang besar. Pemantauan gejala juga penting agar pasien dengan keluhan yang memburuk dapat memperoleh pemeriksaan lebih lanjut sesuai kondisi mereka.
Hipertensi Tercatat Mencapai 4.686 Kasus
Setelah ISPA, hipertensi menjadi masalah kesehatan kedua yang banyak dilaporkan. Jumlahnya mencapai 4.686 kasus selama periode 15–25 Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan pascabencana juga perlu memperhatikan penyakit tidak menular. Pasalnya, kebutuhan medis masyarakat tidak otomatis berhenti ketika bencana terjadi. Orang yang sebelumnya membutuhkan pemantauan tekanan darah atau pengobatan rutin tetap memerlukan layanan. Selain itu, situasi darurat dapat mengubah rutinitas harian masyarakat. Akses menuju fasilitas kesehatan juga dapat menjadi lebih sulit pada wilayah tertentu. Oleh sebab itu, kesinambungan pelayanan menjadi bagian penting dari respons kesehatan setelah bencana. Dalam konteks penyakit usai gempa NTT, data hipertensi sekaligus menunjukkan bahwa layanan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada luka akibat gempa. Penyakit kronis dan kebutuhan obat rutin juga harus tetap mendapatkan perhatian.
Baca Juga : Jangan Asal Sarapan, Perhatikan 2 Hal agar Gula Darah Stabil
Nyeri Otot hingga Trauma Ikut Banyak Dilaporkan
Masalah kesehatan lain yang tercatat adalah myalgia atau nyeri otot sebanyak 1.017 kasus. Sementara itu, terdapat 662 laporan trauma. Kedua kondisi tersebut berada di bawah ISPA dan hipertensi berdasarkan jumlah kasus yang dipaparkan. Nyeri otot dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Sementara itu, trauma membutuhkan penilaian berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Data yang diberikan tidak merinci bentuk trauma maupun penyebab setiap kasus. Oleh karena itu, tidak tepat menganggap seluruh laporan memiliki tingkat keparahan yang sama. Namun, jumlah tersebut tetap menggambarkan beragamnya kebutuhan kesehatan masyarakat setelah gempa. Petugas kesehatan bukan hanya menghadapi satu jenis penyakit. Mereka perlu menangani keluhan pernapasan, penyakit kronis, cedera, serta berbagai masalah lainnya secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat koordinasi layanan kesehatan menjadi penting selama masa tanggap dan pemulihan bencana.
Diare dan Gangguan Pencernaan Juga Muncul
Selain gangguan pernapasan dan trauma, masalah pencernaan ikut masuk dalam daftar penyakit usai gempa NTT. Tercatat 627 kasus diare atau gastroenteritis akut (GEA). Kemudian, terdapat 571 kasus gastritis dan 487 kasus dispepsia. Angka tersebut menunjukkan bahwa keluhan pencernaan menjadi bagian dari kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah terdampak. Meski demikian, data yang tersedia tidak menjelaskan penyebab spesifik dari setiap kasus. Karena itu, hubungan langsung antara seluruh gangguan tersebut dan kondisi pascagempa tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan angka laporan. Dalam situasi bencana, langkah yang penting adalah memastikan keluhan masyarakat dapat diperiksa dengan tepat. Kebersihan makanan, ketersediaan air bersih, sanitasi, serta kebiasaan mencuci tangan juga perlu mendapat perhatian untuk mengurangi risiko penyakit tertentu. Sementara itu, pasien yang mengalami diare berkepanjangan atau tanda dehidrasi perlu memperoleh evaluasi medis.
Diabetes dan Penyakit Kulit Masuk Daftar Pemantauan
Data Kementerian Kesehatan juga mencatat 392 kasus diabetes serta 347 kasus penyakit kulit. Selain itu, terdapat 283 laporan low back pain atau nyeri punggung bawah. Variasi keluhan tersebut kembali memperlihatkan luasnya kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Diabetes, misalnya, membutuhkan pengelolaan yang konsisten. Sebagian pasien memerlukan obat rutin, pemantauan gula darah, dan pengaturan makanan sesuai kondisinya. Di sisi lain, penyakit kulit memiliki penyebab yang sangat beragam sehingga pemeriksaan tetap diperlukan untuk menentukan penanganannya. Karena itu, respons kesehatan pascabencana idealnya tetap mencakup pelayanan dasar yang luas. Fokus memang dapat diberikan kepada kondisi yang paling mendesak. Namun, masyarakat dengan penyakit kronis atau keluhan lain tetap membutuhkan akses terhadap layanan. Data ini sekaligus menjadi pengingat bahwa fase pemulihan bencana memiliki tantangan berbeda dibandingkan beberapa jam pertama setelah gempa terjadi.
Ada 35 Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies
Temuan lain yang perlu diperhatikan adalah kasus gigitan hewan penular rabies. Sebanyak 35 kasus dilaporkan dari Kabupaten Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur. Menurut Agus Jamaludin, seluruh kasus tersebut telah mendapatkan vaksinasi. Informasi ini penting karena penanganan setelah pajanan hewan berisiko rabies tidak boleh diabaikan. Masyarakat yang mengalami gigitan atau cakaran hewan berisiko perlu segera mencari pertolongan medis. Luka juga perlu mendapatkan penanganan awal yang tepat. Selanjutnya, tenaga kesehatan akan menentukan tata laksana berdasarkan jenis pajanan dan kondisi pasien. Dalam situasi pascabencana, keberadaan hewan di sekitar permukiman atau lokasi pengungsian juga perlu diperhatikan. Namun, data yang tersedia tidak menjelaskan bagaimana 35 kejadian tersebut terjadi. Karena itu, penyebab peningkatan atau kaitannya dengan gempa tidak dapat disimpulkan tanpa informasi tambahan.
Daftar Kasus Kesehatan Periode 15–25 Agustus 2026
Berdasarkan data yang disampaikan, ISPA atau batuk tercatat sebanyak 9.668 kasus. Hipertensi berada di urutan kedua dengan 4.686 kasus. Selanjutnya, terdapat 1.017 kasus myalgia dan 662 kasus trauma. Diare atau GEA tercatat sebanyak 627 kasus, sedangkan gastritis mencapai 571 kasus. Kemudian, terdapat 487 kasus dispepsia dan 392 kasus diabetes. Penyakit kulit dilaporkan sebanyak 347 kasus, sementara low back pain mencapai 283 kasus. Di luar daftar tersebut, terdapat pula 35 kasus gigitan hewan penular rabies. Besarnya perbedaan antara angka ISPA dan keluhan lainnya membuat gangguan pernapasan menjadi sorotan utama. Namun, seluruh data tetap penting karena menunjukkan kebutuhan pelayanan yang berbeda. Dengan demikian, pemantauan kesehatan setelah gempa perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu penyakit.
Kesehatan Menjadi Bagian Penting dari Pemulihan Pascagempa
Data penyakit usai gempa NTT menunjukkan bahwa dampak bencana perlu dilihat lebih luas daripada kerusakan bangunan. Setelah proses evakuasi berjalan, pelayanan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam pemulihan masyarakat. Tingginya laporan ISPA menjadi perhatian utama, tetapi hipertensi, gangguan pencernaan, trauma, dan penyakit kronis juga membutuhkan penanganan. Selain itu, laporan gigitan hewan penular rabies memperlihatkan adanya kebutuhan kesehatan lain yang harus ditangani dengan cepat. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, pemantauan data seperti ini membantu melihat jenis layanan yang paling banyak dibutuhkan. Namun, angka laporan tidak selalu berarti setiap penyakit disebabkan langsung oleh gempa. Karena itu, interpretasi data tetap harus hati-hati. Ke depan, kesinambungan layanan medis, ketersediaan obat, sanitasi, air bersih, dan pemantauan penyakit menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat melewati masa pemulihan.


