Fenomena Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi di Indonesia September–Oktober 2025
TrenHarapan – Indonesia akan kembali mengalami fenomena alam unik yang dikenal dengan istilah Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama. Berdasarkan laporan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), peristiwa ini akan berlangsung sepanjang 7 September hingga 21 Oktober 2025.
Fenomena ini terjadi ketika posisi Matahari tepat berada di titik zenit, yaitu posisi paling tinggi di langit. Saat itu, bayangan benda tegak akan menghilang karena bertumpuk dengan objeknya. Itulah mengapa peristiwa ini populer disebut Hari Tanpa Bayangan.
Jadwal Hari Tanpa Bayangan di Indonesia
Hari Tanpa Bayangan tidak terjadi serentak, melainkan bergiliran di tiap kota sesuai lintang geografisnya. Fenomena ini dimulai pada 7 September 2025 di Sabang, Aceh, dan berakhir pada 21 Oktober 2025 di Baa, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Khusus Jakarta Pusat, fenomena ini akan berlangsung pada 8 Oktober 2025 pukul 11.39 WIB.
Beberapa jadwal penting lainnya:
- Banda Aceh: 8 September 2025 pukul 12.36 WIB
- Medan: 13 September 2025 pukul 12.21 WIB
- Padang: 25 September 2025 pukul 12.10 WIB
- Yogyakarta: 13 Oktober 2025 pukul 11.24 WIB
- Surabaya: 12 Oktober 2025 pukul 11.15 WIB
- Denpasar: 15 Oktober 2025 pukul 12.04 WITA
- Jayapura: 5 Oktober 2025 pukul 11.46 WIT
- Merauke: 15 Oktober 2025 pukul 11.51 WIT
Dengan rentang waktu yang cukup panjang, hampir seluruh ibu kota provinsi di Indonesia akan merasakan momen ini.
Apa yang Membuat Fenomena Ini Spesial?
Hari Tanpa Bayangan bukan hanya fenomena astronomi, tetapi juga menjadi momen edukatif dan menarik bagi masyarakat. Banyak sekolah dan komunitas pecinta astronomi biasanya memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan observasi sederhana, seperti menancapkan tongkat atau benda tegak untuk melihat bayangan yang hilang.
Selain itu, fenomena ini juga mengingatkan kita betapa uniknya posisi geografis Indonesia, yang dilalui garis khatulistiwa sehingga bisa mengalami Hari Tanpa Bayangan dua kali dalam setahun, yaitu pada Maret dan September–Oktober.
Menanti Fenomena Alam yang Jarang Terjadi
BMKG mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan fenomena ini sebagai sarana pembelajaran sains sekaligus hiburan. Tidak diperlukan alat canggih untuk mengamatinya, cukup dengan melihat bayangan benda di sekitar kita pada jam yang telah ditentukan.
Hari Tanpa Bayangan 2025 bukan hanya peristiwa langit biasa, melainkan juga bagian dari warisan astronomi Indonesia yang patut disyukuri dan dinikmati bersama.