Intermittent Fasting Lebih Aman untuk Perempuan Jika Dilakukan dengan Cara Tepat
TrenHarapan – Intermittent fasting semakin populer sebagai strategi menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme. Namun, pada perempuan, pola makan ini kerap memicu kekhawatiran terkait keseimbangan hormon. Sejumlah perempuan melaporkan perubahan siklus menstruasi, penurunan energi, hingga fluktuasi suasana hati setelah menerapkan puasa berkala. Kondisi ini membuat intermittent fasting perlu dipahami secara lebih hati-hati, terutama karena respons tubuh perempuan cenderung berbeda dibandingkan laki-laki.
Apa Itu Intermittent Fasting dan Cara Kerjanya
Intermittent fasting adalah pengaturan waktu makan, bukan pembatasan jenis makanan. Pola ini membagi hari ke dalam jendela puasa dan jendela makan, seperti metode 16:8, 14:10, atau 12:12 yang lebih ringan. Selama jendela makan, perempuan tetap dianjurkan mengonsumsi nutrisi seimbang, termasuk protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, dan serat. Fokus utama bukan sekadar memangkas kalori, melainkan menjaga kualitas asupan agar tubuh tetap mendapat energi yang cukup.
Pandangan Ahli Gizi tentang Puasa Berkala
Ahli gizi asal Amerika Serikat, Julia Zumpano, menilai intermittent fasting masih bisa efektif bagi perempuan jika dilakukan secara bijak. Menurutnya, perempuan perlu pendekatan yang lebih lembut dan fleksibel. Artinya, durasi puasa tidak harus panjang sejak awal, dan sinyal tubuh seperti kelelahan atau perubahan siklus haid harus dijadikan pertimbangan utama sebelum melanjutkan atau menyesuaikan pola puasa.
Baca Juga : KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Solid Sepanjang 2025
Mengapa Tubuh Perempuan Lebih Sensitif
Tubuh perempuan bekerja dengan sistem hormonal yang kompleks dan dinamis. Estrogen dan progesteron berperan besar dalam mengatur siklus menstruasi, ovulasi, energi harian, serta suasana hati. Ketika asupan energi dibatasi terlalu ketat, tubuh dapat menganggapnya sebagai kondisi stres atau kekurangan nutrisi. Respons alami ini membuat tubuh menekan fungsi yang dianggap tidak mendesak, termasuk sistem reproduksi, sehingga memicu gangguan hormonal.
Sinyal Stres yang Sering Tidak Disadari
Pada banyak kasus, dampak hormonal akibat puasa tidak langsung terasa. Gejala seperti menstruasi tidak teratur, mudah lelah, gangguan tidur, atau perubahan mood sering muncul perlahan. Karena prosesnya bertahap, banyak perempuan tidak langsung mengaitkannya dengan pola makan yang dijalani. Padahal, sinyal-sinyal tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan penyesuaian pola puasa.
Dampak Intermittent Fasting pada Usia Subur
Pada perempuan usia subur dan pra-menopause, puasa yang terlalu lama berpotensi mengganggu keseimbangan hormon. Penurunan kadar estrogen dan progesteron dapat memicu keluhan seperti kulit kering, rambut rontok, jerawat, hingga penurunan libido. Dalam kondisi tertentu, puasa ekstrem bahkan bisa memengaruhi ovulasi. Karena itu, perempuan pada fase ini perlu ekstra waspada dalam menentukan durasi dan frekuensi puasa.
Kondisi Perempuan Pascamenopause
Berbeda dengan usia subur, perempuan pascamenopause cenderung memiliki kondisi hormonal yang lebih stabil. Karena siklus menstruasi dan ovulasi sudah tidak aktif, intermittent fasting relatif lebih aman dijalankan. Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan. Jika muncul keluhan seperti kelelahan berlebihan atau gangguan tidur, pola puasa sebaiknya dievaluasi agar tidak berdampak negatif pada kualitas hidup.
Mulai dari Puasa Ringan
Bagi perempuan yang ingin mencoba intermittent fasting, pendekatan bertahap menjadi kunci. Memulai dengan puasa ringan, seperti 12 jam semalam, memberi tubuh waktu untuk beradaptasi. Jika respons tubuh baik, durasi puasa dapat ditingkatkan secara perlahan. Pendekatan ini membantu meminimalkan stres metabolik dan menjaga keseimbangan hormon.
Perhatikan Waktu Puasa dalam Siklus Menstruasi
Selain durasi, waktu puasa juga penting diperhatikan. Fase menjelang menstruasi merupakan periode ketika tubuh lebih sensitif terhadap stres. Pada fase ini, puasa panjang sebaiknya dihindari atau dipersingkat. Dengan menyesuaikan pola puasa dengan siklus tubuh, perempuan dapat mengurangi risiko gangguan hormonal.
Kualitas Makanan Saat Berbuka
Asupan makanan saat berbuka puasa memegang peran penting. Perempuan disarankan memilih kombinasi protein, serat, dan lemak sehat agar energi tetap stabil. Pola makan seperti ini membantu mencegah lonjakan gula darah dan menjaga rasa kenyang lebih lama. Dengan demikian, intermittent fasting tidak hanya aman, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Mendengarkan Sinyal Tubuh sebagai Prioritas
Kunci utama menjalankan intermittent fasting bagi perempuan adalah mendengarkan sinyal tubuh. Jika muncul tanda-tanda kelelahan berlebih, gangguan tidur, atau perubahan siklus haid, pola puasa perlu disesuaikan. Intermittent fasting seharusnya mendukung kesehatan, bukan menjadi sumber stres tambahan. Dengan pendekatan yang tepat, perempuan tetap bisa merasakan manfaat puasa tanpa mengorbankan keseimbangan hormon.


