Rupiah Kembali Melemah, Sentuh Level Rp16.970 per Dolar AS

TrenHarapan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin (16/3) pagi, rupiah tercatat berada di posisi Rp16.970 per dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mata uang Garuda melemah sekitar 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah berbagai sentimen global dan domestik.

Selain itu, kondisi pasar keuangan global yang masih dipenuhi ketidakpastian juga ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Di kawasan Asia, pergerakan nilai tukar mata uang terlihat bervariasi pada perdagangan hari ini. Beberapa mata uang mengalami penguatan, sementara yang lain justru melemah terhadap dolar AS.

Sebagai contoh, yen Jepang tercatat menguat sekitar 0,18 persen. Sementara itu, yuan China juga mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,06 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang regional mengalami pelemahan. Baht Thailand turun sekitar 0,38 persen, sedangkan peso Filipina melemah 0,21 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan justru menguat sekitar 0,12 persen terhadap dolar AS.

Dolar Singapura dan Hong Kong Bergerak Tipis

Pergerakan mata uang di kawasan Asia Tenggara dan wilayah finansial Asia lainnya juga relatif terbatas.

Dolar Singapura tercatat menguat tipis sebesar 0,02 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini. Sebaliknya, dolar Hong Kong justru melemah sekitar 0,03 persen.

Fluktuasi yang relatif kecil ini menunjukkan bahwa pasar keuangan regional masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar mata uang.

Baca Juga : Elon Musk Perkenalkan “Macrohard”, Proyek AI Tesla dan xAI yang Sindir Microsoft

Mata Uang Negara Maju Kompak Menguat

Berbeda dengan beberapa mata uang Asia yang bergerak campuran, sejumlah mata uang utama negara maju justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS.

Misalnya, euro Eropa tercatat naik sekitar 0,25 persen. Selain itu, poundsterling Inggris juga menguat sekitar 0,19 persen.

Tidak hanya itu, franc Swiss turut menguat sekitar 0,18 persen dalam perdagangan pagi ini.

Sementara itu, mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Kanada juga mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 0,39 persen dan 0,05 persen.

Konflik Timur Tengah Tekan Pergerakan Rupiah

Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak lepas dari tekanan global, khususnya konflik yang masih memanas di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, ketegangan geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor global, Lukman juga menyoroti adanya sentimen dari dalam negeri yang ikut memengaruhi pergerakan rupiah.

Isu Kebijakan Fiskal Turut Membebani Rupiah

Selain faktor geopolitik, Lukman menilai wacana pemerintah terkait kebijakan fiskal juga menjadi perhatian pasar.

Pemerintah disebut sedang mempertimbangkan opsi untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang memungkinkan pelebaran defisit APBN lebih dari 3 persen.

Isu tersebut dinilai dapat memicu kekhawatiran di pasar keuangan, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Lukman memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali melakukan langkah intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran yang relatif terbatas.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di rentang Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS.

Pergerakan ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi geopolitik global serta respons kebijakan dari otoritas moneter dalam negeri.

Dengan berbagai sentimen yang masih berkembang, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di pasar valuta asing.