Jusuf Kalla Sebut Banjir Aceh Seperti Tsunami Kedua, PMI Bergerak Hadapi Ujian Kemanusiaan

Jusuf Kalla Sebut Banjir Aceh Seperti Tsunami Kedua, PMI Bergerak Hadapi Ujian Kemanusiaan

TrenHarapan – Banjir besar yang melanda Aceh kembali mengguncang ingatan kolektif masyarakat akan tragedi tsunami 2004. Ketua Umum Palang Merah Indonesia, Jusuf Kalla, menyebut bencana ini layak disebut sebagai “Tsunami Kedua” karena daya rusaknya yang masif dan cakupan wilayah yang sangat luas. Jika dahulu air datang dari laut, kali ini banjir turun dari pegunungan, membawa lumpur dan kayu yang menghantam rumah, jembatan, serta fasilitas umum. Pernyataan ini bukan sekadar perumpamaan, melainkan refleksi atas penderitaan warga yang kembali harus bangkit dari trauma bencana. Di banyak wilayah, banjir merendam permukiman dan memutus akses, membuat aktivitas warga lumpuh total. Situasi ini menjadi pengingat bahwa Aceh kembali diuji oleh alam, dan respons kemanusiaan harus berjalan cepat serta terkoordinasi.

Jusuf Kalla dan Pengalaman Panjang Menangani Bencana Aceh

Ucapan Jusuf Kalla tentang “tsunami kedua” lahir dari pengalaman panjangnya mendampingi Aceh saat masa paling kelam. Pada 2004, JK menjabat sebagai Wakil Presiden sekaligus Ketua Bakornas, memimpin langsung upaya pemulihan pascatsunami. Kini, dua dekade kemudian, ia kembali menyaksikan penderitaan rakyat Aceh dalam skala besar, meski dengan karakter bencana berbeda. Dalam sambutannya saat pelantikan Ketua PMI Aceh periode 2025–2030, JK menegaskan bahwa banjir kali ini mencakup sekitar 18 kawasan, sebuah cobaan yang luar biasa berat. Pengalaman masa lalu membuatnya paham bahwa kecepatan penanganan sangat menentukan dampak jangka panjang. Bagi JK, Aceh bukan sekadar wilayah terdampak, melainkan rumah bagi jutaan manusia yang harus segera dibantu agar tidak tenggelam dalam krisis berkepanjangan.

“Baca Juga : Prabowo Tegaskan Negara Kembali Menguasai 4 Juta Hektare Lahan”

Peran PMI dalam Tanggap Darurat dan Layanan Kemanusiaan

Palang Merah Indonesia mengambil peran penting dalam penanganan banjir Aceh, terutama pada fase tanggap darurat. Jusuf Kalla menegaskan bahwa PMI hadir untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi, mulai dari layanan kesehatan, logistik, hingga penyediaan darah. PMI Pusat telah mengirimkan bantuan berupa mobil tangki air, kantong darah, serta tim medis dari berbagai kota seperti Jakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Tangerang. Kehadiran tenaga medis ini sangat krusial untuk mencegah wabah penyakit pascabanjir. Di lapangan, PMI juga menyediakan makanan, minuman, serta dukungan bagi pengungsi. Bagi warga yang terdampak, kehadiran relawan PMI bukan hanya bantuan fisik, tetapi juga penguat moral bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah besar ini.

Kekuatan Relawan PMI yang Menjadi Tulang Punggung Aksi

Di balik setiap aksi kemanusiaan PMI, terdapat kekuatan besar berupa sekitar 1,5 juta relawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Jusuf Kalla menekankan bahwa para relawan inilah jantung organisasi PMI. Di Aceh, relawan bekerja tanpa lelah, membersihkan lumpur, membantu evakuasi, hingga mendampingi warga di pengungsian. Mereka datang dari berbagai latar belakang, digerakkan oleh satu nilai yang sama: kemanusiaan. Dalam situasi banjir yang membawa lumpur tebal dan kayu berbahaya, peran relawan menjadi sangat vital. Mereka membantu mempercepat proses pembersihan agar rumah warga tidak rusak permanen. Dedikasi para relawan ini menjadi bukti bahwa solidaritas sosial masih hidup dan menjadi harapan besar bagi masyarakat yang tengah berjuang bangkit.

“Simak Juga : Korban Banjir dan Longsor di Sumatera Tembus 1.016 Jiwa, Luka Mendalam bagi Negeri”

Transisi dari Tanggap Darurat ke Rehabilitasi

Aceh kini mulai memasuki fase rehabilitasi, meski penanganan darurat masih terus berjalan di beberapa titik. Jusuf Kalla menjelaskan bahwa lumpur banjir harus segera dibersihkan karena jika dibiarkan terlalu lama akan mengeras dan semakin sulit ditangani. Untuk itu, PMI berencana mengirimkan mobil air khusus guna membantu membersihkan rumah-rumah warga. Langkah ini bertujuan agar masyarakat bisa segera kembali ke tempat tinggal mereka dan memulai kembali kehidupan sehari-hari. Transisi menuju rehabilitasi membutuhkan koordinasi yang rapi, karena menyangkut perbaikan lingkungan, kesehatan, dan fasilitas umum. Dalam fase ini, kecepatan dan ketepatan menjadi kunci agar dampak jangka panjang banjir dapat diminimalkan dan pemulihan berjalan lebih manusiawi.

Tantangan Pemulihan Ekonomi dan Psikologis Warga Aceh

Selain kerusakan fisik, banjir Aceh juga meninggalkan luka ekonomi dan psikologis yang mendalam. Banyak sawah tertimbun lumpur, mata pencaharian warga terganggu, dan aktivitas pendidikan anak-anak terhenti. Jusuf Kalla menegaskan bahwa pemulihan ekonomi tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan kerja sama jangka panjang antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi mental warga, terutama anak-anak, agar trauma tidak berkembang menjadi masalah berkepanjangan. PMI siap bekerja sama dengan semua pihak karena prinsip kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah maupun administrasi. Dalam masa sulit ini, solidaritas dan kepedulian menjadi fondasi utama agar Aceh mampu melewati ujian berat yang kembali datang.