Tren Harapan – Pneumonia adalah infeksi paru-paru yang dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak dan lansia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang menginfeksi alveolus, yaitu kantung udara kecil di paru-paru. Ketika alveolus terinfeksi, cairan dan nanah dapat menumpuk, menghambat pertukaran oksigen di dalam tubuh. Akibatnya, penderita pneumonia sering mengalami kesulitan bernapas, batuk berdahak, serta gejala lain yang cukup serius. Tanpa pengobatan yang tepat, penyakit ini bisa berakibat fatal, terutama bagi mereka yang memiliki sistem imun lemah.
Pneumonia dimulai ketika patogen masuk ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan. Begitu sampai di alveolus, sistem kekebalan tubuh akan merespons dengan mengirimkan sel darah putih untuk melawan infeksi. Namun, respons imun ini juga dapat menyebabkan peradangan dan produksi lendir berlebihan. Akibatnya, alveolus yang seharusnya berisi udara menjadi penuh dengan cairan, membuat penderitanya merasa sulit bernapas.
“Baca Juga : Warriors vs Grizzlies: Bagaimana Strategi Golden State Bisa Menang?”
Penderita pneumonia biasanya mengalami demam tinggi, menggigil, dan batuk berdahak yang bisa berwarna hijau, kuning, atau bahkan berdarah. Sesak napas sering terjadi, terutama saat beraktivitas. Nyeri dada yang menusuk juga umum dirasakan, terutama ketika menarik napas dalam. Selain itu, kelelahan ekstrem dan hilangnya nafsu makan sering dialami oleh penderita. Pada kasus yang lebih parah, kulit dan bibir bisa tampak kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Tidak hanya paru-paru, pneumonia juga bisa memengaruhi organ lain. Ketika kadar oksigen dalam darah menurun, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini bisa menyebabkan komplikasi serius seperti gagal jantung, terutama bagi penderita penyakit jantung. Selain itu, jika bakteri penyebab pneumonia masuk ke aliran darah, infeksi dapat menyebar ke organ lain, meningkatkan risiko sepsis yang berpotensi fatal.
“Simak juga: Deretan iPhone yang Masih Layak Dibeli di Tahun 2025, Apa Saja?”
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia, termasuk bayi, lansia, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Penderita penyakit kronis seperti diabetes, asma, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga lebih rentan. Perokok dan individu yang sering terpapar polusi udara juga lebih mudah karena paru-paru mereka lebih rentan terhadap infeksi.
Pneumonia akibat bakteri biasanya diobati dengan antibiotik, sedangkan pneumonia akibat virus bisa membaik dengan perawatan suportif dan istirahat. Pemberian oksigen mungkin diperlukan jika pasien mengalami kesulitan bernapas. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari asap rokok. Mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga daya tahan tubuh juga sangat penting untuk mencegah pneumonia.