20 Tahun Tertekan Smartphone, Pasar Kamera Perlahan Mulai Bangkit
TrenHarapan – Pasar kamera mulai bangkit setelah hampir dua dekade menghadapi tekanan besar dari smartphone. Industri kamera Jepang menunjukkan sinyal pemulihan yang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang atau METI, produksi kamera meningkat pada 2024 dan 2025. Kenaikan selama dua tahun berturut-turut ini menjadi yang pertama dalam hampir 20 tahun. Angkanya memang masih jauh dibandingkan masa kejayaan kamera digital. Namun, perubahan arah tersebut memberikan harapan baru bagi industri fotografi. Menariknya, kebangkitan ini terjadi ketika kamera smartphone justru semakin canggih. Artinya, konsumen tampaknya tidak selalu melihat kamera khusus dan smartphone sebagai pengganti satu sama lain. Kamera mulai kembali dicari karena menawarkan pengalaman, karakter gambar, dan fleksibilitas yang berbeda.
Smartphone Pernah Mengubah Industri Kamera Secara Drastis
Perjalanan industri kamera berubah drastis sejak smartphone mulai berkembang. Pada 2006, setahun sebelum iPhone generasi pertama diperkenalkan, Jepang memproduksi sekitar 37 juta kamera foto. Pada periode yang sama, produksi kamera video mencapai sekitar 12 juta unit. Namun, situasinya berubah setelah kamera menjadi fitur standar pada smartphone. Konsumen tidak lagi harus membawa perangkat khusus untuk mengambil gambar sehari-hari. Smartphone menawarkan kamera, komunikasi, internet, dan media sosial dalam satu perangkat. Akibatnya, permintaan kamera digital turun tajam. Pada 2024, produksi kamera Jepang hanya berada di kisaran dua juta unit. Perbandingan tersebut memperlihatkan betapa besarnya transformasi pasar selama kurang lebih dua dekade. Smartphone bukan hanya menciptakan kompetitor baru. Perangkat tersebut juga mengubah cara masyarakat memandang aktivitas fotografi.
Baca Juga : Apakah Beras Wajib Dicuci Sebelum Dimasak? Ini Penjelasannya
Penetrasi Smartphone Membuat Kamera Digital Terdesak
Penurunan kamera digital semakin terlihat sejak akhir 2000-an. Pada saat bersamaan, penggunaan smartphone terus berkembang hingga penetrasinya mencapai lebih dari 90 persen dalam beberapa tahun terakhir. Kamera smartphone juga berkembang dengan cepat. Mode malam, stabilisasi, pemrosesan komputasional, dan perekaman video berkualitas tinggi kini tersedia dalam perangkat yang masuk kantong. Karena itu, konsumen umum semakin sulit menemukan alasan membeli kamera terpisah. Namun, setelah bertahun-tahun menikmati kemudahan tersebut, sebagian pengguna mulai mencari pengalaman yang berbeda. Kamera khusus menawarkan kontrol manual yang lebih luas. Selain itu, pengguna dapat memilih lensa sesuai kebutuhan pada sistem tertentu. Pergeseran kebutuhan inilah yang perlahan menciptakan ruang baru bagi produsen kamera. Smartphone tetap menjadi perangkat fotografi paling praktis, tetapi kamera khusus kembali mempunyai daya tarik tersendiri.
Kamera DSLR Semakin Kehilangan Tempat di Pasar
Meski pasar kamera mulai bangkit, tidak semua kategori menikmati pertumbuhan serupa. Kamera SLR atau DSLR justru semakin kehilangan popularitas. Berdasarkan data pengiriman domestik yang disebutkan, jumlah pengiriman kamera SLR turun dari sekitar 12 juta unit pada 2020 menjadi sekitar satu juta unit pada 2025. Penurunan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam preferensi pengguna. DSLR pernah menjadi simbol fotografi profesional dan serius. Namun, teknologi mirrorless kini menawarkan bodi lebih ringkas dengan kemampuan yang semakin kompetitif. Selain itu, perkembangan sistem autofocus dan fitur video membuat mirrorless menarik bagi fotografer maupun kreator konten. Karena itu, pemulihan industri kamera tidak berarti teknologi lama kembali berjaya. Sebaliknya, pasar sedang mengalami perubahan generasi. Konsumen tetap tertarik pada kamera khusus, tetapi produk yang mereka cari telah berubah.
Mirrorless Menjadi Motor Penting Kebangkitan Kamera
Kamera mirrorless menjadi salah satu kategori yang menunjukkan perkembangan paling menarik. Pengirimannya meningkat dari sekitar 3,3 juta unit pada 2020 menjadi sekitar 5,4 juta unit pada 2024. Kemudian, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 4,6 juta unit pada 2025. Meski mengalami koreksi, angka itu tetap menunjukkan posisi mirrorless yang semakin penting. Kamera jenis ini mampu menawarkan kualitas tinggi dalam bentuk yang relatif ringkas. Pengguna juga mendapatkan fleksibilitas mengganti lensa sesuai kebutuhan fotografi. Bagi kreator video, mirrorless semakin relevan karena banyak model menawarkan kemampuan perekaman yang serius. Dari sudut pandang industri, tren tersebut memperlihatkan bahwa kamera khusus belum kehilangan fungsi. Sebaliknya, produknya berkembang untuk melayani konsumen yang menginginkan kemampuan lebih jauh dibandingkan kamera smartphone.
Kamera Compact Justru Kembali Menarik Perhatian
Hal yang tidak kalah menarik terjadi pada kamera compact. Kategori yang sempat dianggap akan menghilang akibat smartphone ini justru mulai menunjukkan pemulihan. Pengiriman kamera compact tercatat berada di sekitar 3,9 juta unit pada 2023. Angkanya kemudian meningkat menjadi sekitar 4,4 juta unit pada 2024 dan 5,2 juta unit pada 2025. Tren tersebut menarik karena kamera compact pernah menjadi korban utama perkembangan smartphone. Namun, generasi baru pengguna tampaknya menemukan kembali daya tarik perangkat tersebut. Ukurannya praktis, pengoperasiannya sederhana, dan hasil fotonya dapat memberikan karakter berbeda. Selain itu, membawa kamera terpisah dapat menciptakan pengalaman fotografi yang lebih fokus. Pengguna tidak terganggu notifikasi, pesan, atau aplikasi lain ketika mengambil gambar. Faktor sederhana tersebut ternyata dapat menjadi nilai tambah di era serba digital.
Generasi Muda Membawa Tren Fotografi Baru
Menurut METI, konsumen muda menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pasar kamera mulai bangkit. Mereka mencari kualitas foto dan video yang lebih baik untuk kebutuhan media sosial. Namun, kualitas teknis bukan satu-satunya alasan. Fotografi kini juga menjadi bagian dari identitas visual seseorang. Kamera khusus dapat menghasilkan karakter gambar yang berbeda dibandingkan smartphone. Selain itu, pengalaman memotret menggunakan perangkat tersendiri terasa lebih personal. Fenomena ini cukup menarik karena generasi yang tumbuh bersama smartphone justru mulai mengenal kembali kamera digital. Bagi sebagian pengguna muda, kamera bahkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup. Kondisi tersebut membuka peluang bagi kamera compact maupun mirrorless. Produsen yang mampu menggabungkan desain menarik, kemudahan penggunaan, konektivitas, serta kualitas gambar berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar.
Smartphone dan Kamera Kini Memiliki Fungsi Berbeda
Persaingan kamera dengan smartphone kini tidak sesederhana dua dekade lalu. Smartphone tetap unggul untuk kebutuhan spontan. Pengguna dapat mengambil gambar, mengeditnya, kemudian mengunggahnya dalam hitungan menit. Sementara itu, kamera khusus menawarkan pengalaman yang berbeda. Mirrorless memberikan kontrol lebih luas terhadap lensa, eksposur, dan karakter gambar. Kamera compact menawarkan kesederhanaan dengan sensasi fotografi yang lebih terpisah dari aktivitas ponsel. Karena itu, kedua perangkat dapat hidup berdampingan. Seseorang dapat menggunakan smartphone untuk dokumentasi sehari-hari, lalu membawa kamera ketika menginginkan hasil atau pengalaman tertentu. Menurut saya, perubahan inilah yang membuat kebangkitan kamera terasa lebih masuk akal. Industri tidak perlu lagi mengalahkan smartphone dalam urusan kepraktisan. Kamera hanya perlu memberikan alasan kuat mengapa pengguna ingin membawa perangkat kedua.
Industri Kamera Masih Jauh dari Masa Kejayaan
Walaupun menunjukkan tanda positif, industri kamera belum kembali ke skala produksinya pada awal abad ke-21. Perbedaan antara puluhan juta unit pada era sebelum smartphone dan produksi beberapa juta unit saat ini masih sangat besar. Karena itu, peningkatan selama dua tahun sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kembalinya masa keemasan kamera digital. Sebaliknya, tren tersebut lebih tepat dibaca sebagai terbentuknya pasar baru yang lebih spesifik. Kamera mungkin tidak lagi menjadi perangkat elektronik wajib bagi semua orang. Namun, kamera masih mempunyai tempat bagi fotografer, kreator konten, penghobi, dan generasi muda yang mencari pengalaman visual berbeda. Pasarnya menjadi lebih kecil, tetapi kebutuhan konsumennya juga semakin jelas. Kondisi tersebut dapat membantu produsen mengembangkan perangkat yang lebih terarah daripada sekadar bersaing dengan smartphone.
Kebangkitan Kamera Menunjukkan Perubahan Selera Konsumen
Setelah hampir 20 tahun menghadapi tekanan smartphone, pasar kamera mulai bangkit melalui jalur yang berbeda. Mirrorless menawarkan kemampuan serius bagi pengguna yang membutuhkan fleksibilitas. Sementara itu, kamera compact kembali menemukan penggemar karena sederhana dan memiliki karakter tersendiri. Pertumbuhan produksi pada 2024 dan 2025 juga memberikan sinyal bahwa permintaan belum sepenuhnya menghilang. Namun, masa depan industri kamera kemungkinan tidak akan menyerupai era sebelum smartphone. Kamera kini bergerak menuju produk yang lebih khusus dan berorientasi pada pengalaman. Justru perubahan tersebut dapat menjadi kekuatan baru. Smartphone mungkin telah memenangkan persaingan dalam fotografi sehari-hari. Akan tetapi, ketika pengguna mencari kontrol, karakter visual, dan pengalaman memotret yang lebih mendalam, kamera khusus masih mempunyai alasan kuat untuk tetap bertahan.


