Teknologi Canggih untuk Pemasangan Ring Jantung yang Lebih Presisi dan Aman
TrenHarapan – Penyakit jantung koroner seringkali memerlukan tindakan medis yang tepat dan cepat. Salah satu prosedur yang sering dilakukan adalah pemasangan ring jantung atau stent, yang bertujuan untuk membuka pembuluh darah jantung yang menyempit. Namun, keberhasilan prosedur ini tidak hanya bergantung pada terbukanya pembuluh darah, tetapi juga pada seberapa presisi stent terpasang serta kemampuannya mencegah penyempitan kembali atau restenosis.
Menurut dr. Nanda Iryusa, spesialis jantung, teknologi modern semakin mempermudah prosedur ini. Teknologi pencitraan yang canggih memungkinkan dokter untuk menganalisis kondisi pembuluh darah dengan lebih teliti.
Teknologi Pencitraan Intravaskular dalam Prosedur PCI
Salah satu teknologi yang digunakan dalam pemasangan ring jantung adalah Optical Coherence Tomography (OCT) atau lebih dikenal dengan nama cathlab. Alat ini mampu memberikan gambaran visual yang akurat tentang struktur pembuluh darah dan tingkat penyempitan.
“OCT sangat dianjurkan untuk pasien dengan struktur arteri koroner yang kompleks, seperti pada penyempitan di pangkal, percabangan, atau penyempitan yang panjang,” ujar dr. Nanda. Teknologi ini memberikan resolusi gambar yang lebih jelas dan detail, membantu dokter dalam menentukan langkah yang tepat.
Intravascular Ultrasound (IVUS) dan Fractional Flow Reserve (FFR)
Selain OCT, teknologi lain yang digunakan adalah Intravascular Ultrasound (IVUS). IVUS adalah alat kecil yang dimasukkan melalui kateter ke pembuluh darah untuk mendapatkan gambar tiga dimensi dari kondisi pembuluh. Hal ini memungkinkan dokter untuk lebih memahami kondisi pembuluh darah yang ingin diperiksa.
Selain itu, ada Fractional Flow Reserve (FFR) yang digunakan untuk menganalisis aliran darah dan menentukan apakah pembuluh darah membutuhkan tindakan medis lebih lanjut. FFR membantu dokter dalam memberikan keputusan lebih tepat untuk tindakan PCI.
Menangani Penyempitan Pembuluh Darah Karena Kalsium
Kadang-kadang, pemasangan ring jantung bisa gagal jika penyempitan pembuluh darah disebabkan oleh pengapuran atau penumpukan kalsium. Dalam kasus ini, rotablator digunakan untuk mengikis plak kalsium yang keras.
“IVUS menunjukkan bahwa penyempitan ini terjadi karena pengapuran berat. Itu sebabnya pemasangan ring tidak bisa dilakukan,” jelas dr. Nanda. Selain rotablator, intravenous lithotripsy juga digunakan untuk meretakkan kerak kalsium tanpa merusak jaringan lunak pembuluh darah.
Perubahan Gaya Hidup Setelah Pemasangan Ring Jantung
Setelah pemasangan ring jantung, pasien perlu melakukan perubahan gaya hidup untuk mencegah serangan jantung kedua. Dr. Nanda mengingatkan, setelah prosedur, pembuluh darah tidak bekerja dengan sempurna lagi. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk mengontrol pola makan, tekanan darah, gula darah, dan berhenti merokok.
“Serangan jantung kedua biasanya lebih parah, karena pembuluh darah sudah rusak,” ujar dr. Nanda. Menjaga pola hidup sehat sangat penting untuk mendukung pemulihan kesehatan jantung.


