Pantangan Gula Darah Tinggi yang Sering Diabaikan, Ini Penjelasan Dokter
TrenHarapan – Gula darah tinggi sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan dari kebiasaan yang dianggap sepele. Dokter Endokrinologi Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. I Gusti Ngurah Adhiartha, menegaskan bahwa pemicu paling umum berasal dari pola makan dan gaya hidup harian. Banyak orang merasa aman selama belum didiagnosis diabetes, padahal lonjakan gula darah bisa terjadi jauh sebelumnya. Asupan karbohidrat dan gula berlebih menjadi faktor utama yang kerap tidak disadari. Kebiasaan minum teh manis, camilan tinggi gula, hingga makan larut malam perlahan membebani kerja hormon insulin. Transisi dari pola hidup aktif ke sedentari juga mempercepat masalah. Gula darah tinggi bukan hanya isu medis, tetapi cerminan rutinitas harian yang perlu dievaluasi dengan jujur dan konsisten.
Minuman Manis, Musuh Paling Cepat Menaikkan Gula
Minuman manis menempati posisi teratas dalam daftar pantangan darah gula tinggi. Teh manis, soda, minuman boba, hingga minuman kemasan mengandung gula cair yang sangat cepat diserap tubuh. Dokter Adhiartha menjelaskan bahwa gula dalam bentuk cair memicu lonjakan gula darah lebih tajam dibanding makanan padat. Banyak orang tidak menyadari jumlah gula yang dikonsumsi dari minuman harian. Dalam waktu singkat, kadar gula bisa melonjak tanpa memberi rasa kenyang. Jika kebiasaan ini terus berulang, risiko gangguan metabolik meningkat, baik pada penderita diabetes maupun orang sehat. Transisi ke air putih atau minuman tanpa gula menjadi langkah kecil namun berdampak besar. Mengurangi minuman manis berarti memberi kesempatan tubuh menjaga keseimbangan gula darah secara alami.
“Baca Juga : Kebiasaan Sepele yang Mengubah Hidup Sulistia di Usia 14 Tahun”
Makanan Cepat Saji dan Karbohidrat Sederhana
Selain minuman manis, makanan cepat saji juga menjadi pantangan utama. Makanan jenis ini biasanya tinggi karbohidrat sederhana, lemak jenuh, dan natrium. Karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti putih, mi instan, dan gorengan mudah diubah menjadi glukosa. Akibatnya, darah gula naik dengan cepat setelah makan. Dokter Adhiartha menekankan bahwa masalah diabetes bukan semata jenis makanan, melainkan jumlah yang dikonsumsi. Porsi besar dengan frekuensi sering memperberat kerja tubuh. Transisi ke karbohidrat kompleks seperti beras merah atau ubi membantu menjaga kenaikan guladarah lebih stabil. Mengubah pola makan bukan soal larangan mutlak, tetapi soal kesadaran mengatur porsi dan frekuensi secara bijak.
Kurang Tidur dan Stres yang Mengganggu Metabolisme
Pantangan guladarah tinggi tidak hanya berkaitan dengan makanan. Pola tidur dan kondisi mental memegang peran penting. Kurang tidur dan stres berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol, adrenalin, dan noradrenalin. Hormon-hormon ini memicu kenaikan gula darah. Dokter Adhiartha menyebut bahwa kebiasaan begadang dapat meningkatkan risiko diabetes hingga tujuh kali lipat. Banyak orang mengabaikan dampak stres kerja dan tekanan emosional terhadap metabolisme. Transisi gaya hidup modern yang serba cepat membuat waktu istirahat semakin tergerus. Padahal, tidur cukup membantu tubuh mengatur darahgula secara alami. Mengelola stres dan menjaga jam tidur bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menjaga keseimbangan metabolik jangka panjang.
“Simak Juga : Vaksin RSV Terbukti Aman: Data Global Tunjukkan Risiko GBS Sangat Rendah”
Pantangan Lain yang Sering Terlewat
Selain makanan dan stres, ada pantangan lain yang sering luput dari perhatian. Konsumsi obat tertentu seperti steroid atau diuretik tanpa pengawasan dokter dapat memicu kenaikan gula darah. Pola makan tidak teratur dengan porsi berlebihan juga berisiko. Kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang membuat tubuh kurang sensitif terhadap insulin. Pada penderita diabetes, gula darah tinggi bisa muncul akibat dosis obat atau insulin yang tidak tepat. Dokter Adhiartha menegaskan bahwa ketidakteraturan pengobatan hampir pasti menyebabkan gula darah melonjak. Transisi menuju gaya hidup lebih aktif dan disiplin menjadi kunci penting. Mengabaikan faktor-faktor ini berarti membuka pintu komplikasi yang seharusnya bisa dicegah sejak dini.
Pilihan Aman untuk Mengendalikan Gula Darah
Sebagai alternatif, dokter menyarankan pola makan dengan indeks glikemik rendah. Beras merah, ubi, sayuran hijau, dan buah beri menjadi pilihan yang lebih aman. Protein tanpa lemak seperti ikan, ayam tanpa kulit, tahu, dan tempe membantu menjaga rasa kenyang tanpa lonjakan gula. Cara memasak juga berpengaruh, meski tidak dominan. Metode rebus, kukus, atau air fryer lebih disarankan dibanding menggoreng. Namun, pengendalian gula darah tidak berhenti pada dapur. Pemeriksaan rutin ke dokter tetap penting untuk memastikan kadar gula terkontrol. Transisi menuju kebiasaan sehat membutuhkan konsistensi. Seperti ditegaskan Adhiartha, pengendalian gula darah bukan hanya soal obat, tetapi tentang kebiasaan hidup sehari-hari.


