Bos Bulog Ungkap Penyebab Kerugian Rp550 Miliar pada 2025
TrenHarapan – Perum Bulog mengungkapkan penyebab kerugian yang mencapai Rp550 miliar pada 2025. Direktur Keuangan Bulog, Hendra Susanto, menjelaskan bahwa kerugian tersebut dipicu oleh skema penugasan pemerintah yang tidak mencakup margin keuntungan yang cukup.
Kerugian Sementara Rp550 Miliar
Dalam konferensi pers di Bulog Business District, Jakarta Selatan, Hendra menyatakan bahwa angka kerugian tersebut masih bersifat sementara. “Kami tidak bisa menutup-nutupi kerugian Rp550 miliar. Itu baru sementara karena marginnya masih Rp50 per kilogram,” ujar Hendra. Ia menambahkan bahwa jika margin keuntungan disetujui pemerintah menjadi 7 persen, kondisi keuangan Bulog akan jauh lebih baik.
Usulan Margin 7 Persen untuk Meningkatkan Keuangan Bulog
Hendra menjelaskan bahwa dengan margin 7 persen, Bulog diperkirakan bisa mencatatkan keuntungan hingga Rp2,4 triliun. “Jika pemerintah setuju dengan margin 7 persen, Bulog akan membukukan keuntungan Rp2,4 hingga Rp2,5 triliun. Itu akan membuat Bulog lebih sehat secara finansial,” jelas Hendra.
Baca Juga : Edukasi Gizi Berkelanjutan untuk Anak Sekolah: Kunci Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa
Pentingnya Biaya Operasional dan Margin Keuntungan
Menurut Hendra, setiap penugasan dari pemerintah harus mencakup dua komponen penting: biaya operasional dan margin keuntungan. Hal ini sudah diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri. “Setiap penugasan harus ada dua komponen: biaya dan margin,” tambahnya.
Perhitungan Margin Wajar Berdasarkan Pendapat Ahli
PERSAGI, bersama ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), telah menghitung margin yang wajar untuk Bulog. Hasilnya menunjukkan bahwa angka rata-rata margin yang seharusnya adalah 7 persen. “Setelah perhitungan dengan ahli UGM, margin rata-rata yang wajar adalah 7 persen. Ini sejalan dengan badan usaha penerima subsidi lainnya,” ujarnya.
Dukungan Margin untuk Ketahanan Pangan
Hendra berharap pemerintah segera menetapkan kebijakan margin yang lebih tinggi. Dengan margin yang wajar, Bulog diharapkan bisa lebih mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan. “Dengan margin yang lebih baik, Bulog bisa lebih mendukung ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga pangan,” kata Hendra.
Kerugian Bulog di 2025 dan Beban Penugasan
Sebelumnya, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, melaporkan kerugian Bulog sebesar Rp550 miliar pada akhir 2025. Kerugian ini disebabkan oleh beban penugasan yang semakin meningkat, mulai dari penyerapan gabah hingga penyaluran beras. “Kerugian Bulog sekitar Rp550 miliar pada pembukuan akhir 2025,” ujar Rizal dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat.
Tantangan Penugasan Bulog yang Meningkat
Rizal menjelaskan bahwa semakin tingginya beban penugasan, terutama dalam penyerapan gabah dan penyaluran beras ke masyarakat, membuat kondisi keuangan Bulog semakin tertekan. Meski begitu, ia berharap kebijakan yang lebih mendukung akan membantu memperbaiki kondisi tersebut.
Peran Pemerintah dalam Menjamin Kesehatan Keuangan Bulog
Keputusan pemerintah mengenai kebijakan margin sangat mempengaruhi kesehatan finansial Bulog. Dengan margin yang tepat, Bulog dapat lebih maksimal menjalankan program ketahanan pangan dan menjaga kestabilan harga pangan. Keputusan ini menjadi sangat krusial bagi kelangsungan Bulog.


